Analisis Kebijakan Pangan dan Agribisnis di Indonesia: Kajian Literatur dan Komparasi Sensus Pertanian (ST) 2013 dan ST 2023
DOI:
https://doi.org/10.37145/ednf3p44Keywords:
Kebijakan Pangan dan Agribisnis, Sistem Pangan, Peremajaan Tanaman Perkebunan, Pertanian RegeneratifAbstract
Sektor pertanian pada tahun 2023 menjadi basis ekonomi nasional terbesar ketiga setelah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, yaitu sebesar 12,53% dari PDB nasional dengan pertumbuhan sebesar 1,3%. Adapun jika dilihat dari kerangka agribisnis, maka sumbangan agribisnis terhadap perekonomian nasional diperkirakan sebesar 27,37% dari PDB nasional. Pangan dan agribisnis sudah semestinya dapat memakmurkan pelaku utamanya, yaitu petani. Namun demikian, pada kenyataannya masih banyak petani yang belum sejahtera atau mayoritas masih hidup di bawah garis kemiskinan. Gap empirisnya adalah sudah banyak dilakukan kajian terkait kebijakan pangan dan agribisnis namun efektivitasnya belum sesuai dengan yang diharapkan yaitu sebagai landasan evidence based dalam pengambilan kebijakan berikutnya. Melihat besarnya peran pangan dan agribisnis terhadap perekonomian maka perlu dilakukan analisis komprehensif, yaitu hasil-hasil kajian sebelumnya yang dirangkum ke dalam satu tulisan, terhadap kebijakan pangan dan agribisnis di Indonesia. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan rekomendasi kebijakan pangan dan agribisnis berdasarkan evidence based analisis kebijakan yang telah ada sebelumnya dan dirangkum menjadi satu. Teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah ini adalah Teori Nudge, di mana pengambilan keputusan oleh manusia dapat dipengaruhi oleh dorongan kecil yang tidak disadari, dalam hal ini penyajian kajian brief. Metode yang digunakan adalah literature review dari hasil Sensus Pertanian 2023 dan Sensus Pertanian 2013 serta dari berbagai buku dan jurnal terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemerintah perlu melakukan peremajaan secara terukur pada tanaman perkebunan dan memperkuat agribisnis komoditas pangan yang masih besar nilai impornya namun berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia, seperti jagung, susu, dan gula. Kebaruan dari penelitian ini adalah komparasi hasil terbaru Sensus Pertanian 2023 dan Sensus Pertanian 2013 berdasarkan analisis kebijakan dan sistem pangan. Kesimpulannya, pemerintah perlu mencari alternatif komoditas perkebunan lainnya sebagai penapis kelapa sawit dalam menopang ekonomi nasional, mempercepat penyediaan bahan baku bagi industri agro yang masih under utility, serta menerapkan konsep pertanian regeneratif.
Downloads
References
Asmarantaka, R. W., Baga, L. M., Suprehatin, & Maryono. (2012). Analisis usaha tani tebu rakyat di Lampung. Dalam B. Krisnamurthi (Ed.), Ekonomi gula. Jakarta: Gramedia.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). (2018). Analisis wilayah dengan kemiskinan tinggi. Jakarta: Kedeputian Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Bappenas.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). (2024). Perkembangan ekonomi Indonesia dan dunia Triwulan IV 2023 (Vol. 7, No. 4, Februari 2024). Jakarta: Kedeputian Bidang Ekonomi, Bappenas.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2014a). Analisis kebijakan pertanian Indonesia: Implementasi dan dampak terhadap kesejahteraan petani dari perspektif Sensus Pertanian. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2014b). Analisis sosial ekonomi petani di Indonesia. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2014). Sensus Pertanian 2013: Angka nasional hasil pencacahan lengkap. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015a). Ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan Indonesia. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015b). Transformasi struktural usaha tani dan petani di Indonesia. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015c). Estimasi parameter dan pemetaan efisiensi produksi pangan di Indonesia. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015d). Daya saing dan pemetaan peremajaan komoditi perkebunan. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015e). Efisiensi sistem produksi dan tataniaga hortikultura. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2023 Tahap I. Jakarta: BPS.
Bank Indonesia (BI). (2020). Pangan Nusantara 2020: Memperkuat pasokan komoditas pangan strategis melalui pengembangan klaster. Jakarta: BI.
Bank Indonesia (BI). (2021). Pangan Nusantara 2021: Diversifikasi komoditas pangan perkuat ketahanan pangan nasional. Jakarta: BI.
Gustiana, E. (2017). Analisis pendapatan dan distribusi pendapatan usahatani tebu rakyat di Kecamatan Bungamayang Kabupaten Lampung Utara (Skripsi). Lampung: Universitas Lampung.
Krisnamurti, B., & Harianto. (2017). Menuju agribisnis Indonesia yang berdaya saing. Bogor: Departemen Agribisnis IPB.
Rachmina. (2015). Evolusi pendidikan tinggi agribisnis Indonesia. Bogor: Departemen Agribisnis IPB.
Saragih, B. (2010). Suara dari Bogor: Membangun opini sistem agribisnis. Bogor: IPB Press.
Kindagen, J. G., Kairupan, A. N., Joseph, G. H., Rawung, J. B. M., & Indrasti, R. (2023). Sustainable agricultural development through agribusiness approach and provision of location-specific technology in North Sulawesi. E3S Web of Conferences, 444, 1–14. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202344401003
Leitão, F. O., Paiva, E. L., & Thomé, K. M. (2023). Agribusiness capabilities and performance: A systematic literature review and research agenda. British Food Journal, 126(2), 595–622. https://doi.org/10.1108/BFJ-12-2022-114
Machmud, M., Siregar, H., Hariyanto, & Susila, W. R. (2019). The role of rubber industries on the economy of Jambi Province: A social accounting matrix approach. Indonesian Journal of Natural Rubber Research, 37(2), 97–114. https://doi.org/10.22302/ppk.jpk.v37i2.659
Machmud, M., Siregar, H., Hariyanto, & Susila, W. R. (2022). The rubber industry of Indonesia: Strategy for competitiveness and sustainability. European Journal of Business and Management, 14(3), 52–64. https://doi.org/10.7176/EJBM/14-3-06
Orrego, L. M. B., Jaramillo, N., Grisales, J. A. C., & Ceballos, Y. F. (2023). A systematic review of the evaluation of agricultural policies using PRISMA. Heliyon, 9, 1–17. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e20292
Popp, T. R. (2021). Explaining policy convergence and divergence through policy paradigm shifts: A comparative analysis of agricultural risk governance in OECD countries. Journal of Comparative Policy Analysis, 23(3), 310–327. https://doi.org/10.1080/13876988.2019.1674623
Rahayu, E. S. (2020). Prospektif pengembangan agribisnis yang berorientasi pada potensi dan karakteristik wilayah. Prosiding Seminar Agribisnis 2020, 1–7.
Sudaryanto, T., Iqbal, M., et al. (2016). Tingkat dukungan domestik untuk sektor pertanian Indonesia. Analisis Kebijakan Pertanian, 14(1), 73–82.
Trevors, J., & Saier, M. (2010). AgriBusiness versus AgriCulture. Water, Air, and Soil Pollution, 205, 35–36.
Wuepper, D., Wiebecke, I., et al. (2024). Agri-environmental policies from 1960 to 2022. Nature Food, 5, 323–331. https://doi.org/10.1038/s43016-024-00945-8
Santosa, D. A. (2023). “Sensus Pertanian 2023 dan senja kala pertanian”. https://www.kompas.id/baca/opini/2023/12/14/sensus-pertanian-2023-dan-senja-kala-pertanian, diakses 20 Juni 2024.
Santosa, D. A. (2024). “Pangan dalam debat”. https://www.kompas.id/baca/opini/2024/02/19/pangan-dalam-debat-1, diakses 21 Juni 2024.